Banyu
Asap tipis membumbung, terbang perlahan menuju langit gelap tanpa bintang. Sedikit demi sedikit menghilang, berbaur dengan angin malam yang dingin. Seiring hilangnya asap, bara rokok pun tiba di ujung filter. Hampir habislah satu batang.
Mereka bilang rokok bisa menghilangkan beban pikiran. Tidak ada bukti empiris, sesungguhnya. Namun paling tidak bisa berharap beban itu merembes dari otak masuk ke kerongkongan dan bergabung bersama hembusan nafas saat melepas hisapan batang-batang tembakau itu. Sebenarnya bisa saja yang terjadi malah sebaliknya, ia turun saat kita menghirup nikotin dan larut ke dalam paru-paru. Mengendap, dan ikut membunuh. Lalu lebih cepat mati karena bukan saja nikotin-nikotin itu yang menggerogoti tubuh, tapi pikiran yang membebani otak kini ikut membebani tubuh.
Banyu duduk seorang diri. Bersila di lantai yang dingin, di hadapan taman kering di dalam rumah yang isinya hanya bebatuan dan pohon-pohon yang tahan tak diberi air dalam waktu lama. Sebenarnya tempat itu tak cocok untuk disebut sebagai sebuah taman. Hanya atas dasar kearifan saja para arsitek menggelari tempat semacam itu sebagai taman, agar lebih nyaman untuk dipandangi dan dinikmati. Karena sejujurnya, taman semestinya adalah ruang hijau yang nyaman untuk dipandangi dan dinikmati. Terdesak dengan dorongan minimalis a la desain urban, mereka membuat ruang gersang dengan sedikit pepohonan dan tumbuhan hijau lainnya seperti itu dan dinamai taman pula. Tak lupa dengan embel-embel “kering” di belakangnya sebagai penanda bahwa ruang itu memang tetap berbeda dengan taman seharusnya.
Rokok di genggaman ujung jarinya nyaris padam. Sementara kotak yang tertidur di samping kakinya pun telah kosong. Dia kemudian memejam. Mungkin mencoba merasakan apakah beban pikirannya telah ia hembuskan atau teronggok di dalam paru-parunya. Sepuluh detik ia memejamkan matanya. Detik kesebelas ia mulai mengangkat kedua kelopak mata perlahan. Memandang ke atas, ke langit kelam tak berbintang. Ia mulai bergumam dalam hati. Sepertinya ungkapan-ungkapan kekecewaan yang terlontar. Tapi tak ada yang dapat mendengar kecuali dirinya sendiri.
Persis seperti namanya, Banyu. Air. Kadang tenang, kadang bergejolak. Atau beriak tanda tak dalam. Kali ini air itu persis seperti yang ada di lautan saat malam. Gelombang pasang bergulung-gulung menuju pantai. Dengan hebatnya menerjang istana pasir yang telah dibangun anak-anak kecil di siang harinya. Persis. Banyu menjelma menjadi gelombang pasang. Bergejolak hebat tanpa ada suara sedikit pun selain tiupan angin laut.
Malam itu Banyu mencoba menerjang semua kisah yang pernah dibangunnya. Istana pasir indah di bibir pantai. Di siang hari, dua anak kecil yang baru bertemu lalu bermain bersama di atas hamparan pasir. Mereka berbicara tentang apa saja. Kelapa, umang-umang, papan seluncur, langit biru cerah, hingga horison yang menggaris batas samudera. Hingga suatu masa mereka tiba pada keinginan yang sama untuk membangun sebuah istana. Bukan istana yang sesungguhnya, hanya tiruannya dari buliran pasir pantai. Mereka mulai membangun dari masing-masing sisi. Yang satu membangun dari kanan, dan yang satu lagi membangun dari kiri. Sambil tangan mereka terampil memadatkan pasir dan menjadikannya dinding-dinding istana, mereka berimajinasi bagaimana hasilnya nanti. Di bayangan mereka sebuah istana pasir megah akan berdiri. Hasil dari kerjasama sebuah pertemanan singkat.
Perlahan-lahan masing-masing sisi telah mulai terbangun dan kini mulai mengkerucut ke atas dan saatnya bertemu satu sama lain. Saat matahari mulai turun, tiba lah saat mereka menyatukan kedua sisi dengan memasangkan atap pada bagian atas istana mereka. Salah satu dari mereka begitu bersemangat menutupnya. Namun anak yang satunya mulai ragu. Dilihatnya sisi yang dibangun oleh kawannya itu. Nampak seperti sebuah istana kerajaan di abad pertengahan. Sudut-sudut yang kaku dan kotak-kotak. Ia tak membayangkan jadinya akan seperti itu. Ia memandang sisi yang ia bangun. Istana seperti yang dipenuhi dinding melingkar dari menara-menara. Persis seperti yang ditampilkan dalam kartun-kartun tentang putri-putri cantik. Ia diam, tak bersemangat seperti di awal. Anak kecil itu kecewa. Istana yang dibangun bersama kawannya tidak berakhir seperti yang ia bayangkan. Namun karena kawannya masih bersemangat untuk memberikan sentuhan akhir bagi istana mereka, ia pun ikut berpura-pura semangat. Dan tak beberapa lama istana mereka selesai dibangun. Istana dengan dua nafas desain. Anak yang kecewa itu ingin sekali berjalan meninggalkan kawannya yang masih tersenyum memandangi hasil karya mereka. Namun ia tidak tega. Ia hanya berharap malam itu ombak pasang.
Banyu menghisap batang rokoknya yang sudah makin memendek. Hisapan terakhirnya hampir membakar bagian filter. Ia hembus perlahan asapnya dan kemudian menghirup udara di sekitarnya. Merasakan aroma asap. Ia menemukan aroma lain di sana. Aroma pasir pantai. Sepertinya gelombang laut di malam itu berhasil meluruhkan istana pasir buatan dua anak kecil itu.

Bagus!! Aku suka analogi2nyaa. Hmmhmm. Btw,I know you,mo,that’s why I already guessed and predicted how the ending would be when I read the 6th paragraph..
uwauuuaw. makna nya ngga tersirat jelas, tapi okee. gw suka bacanya. ehmm jadi bisa mikir2 sendiri.hihi