Banyu

•July 13, 2009 • 2 Comments

Asap tipis membumbung, terbang perlahan menuju langit gelap tanpa bintang. Sedikit demi sedikit menghilang, berbaur dengan angin malam yang dingin. Seiring hilangnya asap, bara rokok pun tiba di ujung filter. Hampir habislah satu batang.

Mereka bilang rokok bisa menghilangkan beban pikiran. Tidak ada bukti empiris, sesungguhnya. Namun paling tidak bisa berharap beban itu merembes dari otak masuk ke kerongkongan dan bergabung bersama hembusan nafas saat melepas hisapan batang-batang tembakau itu. Sebenarnya bisa saja yang terjadi malah sebaliknya, ia turun saat kita menghirup nikotin dan larut ke dalam paru-paru. Mengendap, dan ikut membunuh. Lalu lebih cepat mati karena bukan saja nikotin-nikotin itu yang menggerogoti tubuh, tapi pikiran yang membebani otak kini ikut membebani tubuh.

Banyu duduk seorang diri. Bersila di lantai yang dingin, di hadapan taman kering di dalam rumah yang isinya hanya bebatuan dan pohon-pohon yang tahan tak diberi air dalam waktu lama. Sebenarnya tempat itu tak cocok untuk disebut sebagai sebuah taman. Hanya atas dasar kearifan saja para arsitek menggelari tempat semacam itu sebagai taman, agar lebih nyaman untuk dipandangi dan dinikmati. Karena sejujurnya, taman semestinya adalah ruang hijau yang nyaman untuk dipandangi dan dinikmati. Terdesak dengan dorongan minimalis a la desain urban, mereka membuat ruang gersang dengan sedikit pepohonan dan tumbuhan hijau lainnya seperti itu dan dinamai taman pula. Tak lupa dengan embel-embel “kering” di belakangnya sebagai penanda bahwa ruang itu memang tetap berbeda dengan taman seharusnya.

Rokok di genggaman ujung jarinya nyaris padam. Sementara kotak yang tertidur di samping kakinya pun telah kosong. Dia kemudian memejam. Mungkin mencoba merasakan apakah beban pikirannya telah ia hembuskan atau teronggok di dalam paru-parunya. Sepuluh detik ia memejamkan matanya. Detik kesebelas ia mulai mengangkat kedua kelopak mata perlahan. Memandang ke atas, ke langit kelam tak berbintang. Ia mulai bergumam dalam hati. Sepertinya ungkapan-ungkapan kekecewaan yang terlontar. Tapi tak ada yang dapat mendengar kecuali dirinya sendiri.

Persis seperti namanya, Banyu. Air. Kadang tenang, kadang bergejolak. Atau beriak tanda tak dalam. Kali ini air itu persis seperti yang ada di lautan saat malam. Gelombang pasang bergulung-gulung menuju pantai. Dengan hebatnya menerjang istana pasir yang telah dibangun anak-anak kecil di siang harinya. Persis. Banyu menjelma menjadi gelombang pasang. Bergejolak hebat tanpa ada suara sedikit pun selain tiupan angin laut.

Malam itu Banyu mencoba menerjang semua kisah yang pernah dibangunnya. Istana pasir indah di bibir pantai. Di siang hari, dua anak kecil yang baru bertemu lalu bermain bersama di atas hamparan pasir. Mereka berbicara tentang apa saja. Kelapa, umang-umang, papan seluncur, langit biru cerah, hingga horison yang menggaris batas samudera. Hingga suatu masa mereka tiba pada keinginan yang sama untuk membangun sebuah istana. Bukan istana yang sesungguhnya, hanya tiruannya dari buliran pasir pantai. Mereka mulai membangun dari masing-masing sisi. Yang satu membangun dari kanan, dan yang satu lagi membangun dari kiri. Sambil tangan mereka terampil memadatkan pasir dan menjadikannya dinding-dinding istana, mereka berimajinasi bagaimana hasilnya nanti. Di bayangan mereka sebuah istana pasir megah akan berdiri. Hasil dari kerjasama sebuah pertemanan singkat.

Perlahan-lahan masing-masing sisi telah mulai terbangun dan kini mulai mengkerucut ke atas dan saatnya bertemu satu sama lain. Saat matahari mulai turun, tiba lah saat mereka menyatukan kedua sisi dengan memasangkan atap pada bagian atas istana mereka. Salah satu dari mereka begitu bersemangat menutupnya. Namun anak yang satunya mulai ragu. Dilihatnya sisi yang dibangun oleh kawannya itu. Nampak seperti sebuah istana kerajaan di abad pertengahan. Sudut-sudut yang kaku dan kotak-kotak. Ia tak membayangkan jadinya akan seperti itu. Ia memandang sisi yang ia bangun. Istana seperti yang dipenuhi dinding melingkar dari menara-menara. Persis seperti yang ditampilkan dalam kartun-kartun tentang putri-putri cantik. Ia diam, tak bersemangat seperti di awal. Anak kecil itu kecewa. Istana yang dibangun bersama kawannya tidak berakhir seperti yang ia bayangkan. Namun karena kawannya masih bersemangat untuk memberikan sentuhan akhir bagi istana mereka, ia pun ikut berpura-pura semangat. Dan tak beberapa lama istana mereka selesai dibangun. Istana dengan dua nafas desain. Anak yang kecewa itu ingin sekali berjalan meninggalkan kawannya yang masih tersenyum memandangi hasil karya mereka. Namun ia tidak tega. Ia hanya berharap malam itu ombak pasang.

Banyu menghisap batang rokoknya yang sudah makin memendek. Hisapan terakhirnya hampir membakar bagian filter. Ia hembus perlahan asapnya dan kemudian menghirup udara di sekitarnya. Merasakan aroma asap. Ia menemukan aroma lain di sana. Aroma pasir pantai. Sepertinya gelombang laut di malam itu berhasil meluruhkan istana pasir buatan dua anak kecil itu.

Advertisements

“… I’m Glad It’s You, Dear”

•June 6, 2009 • 4 Comments

Hari minggu malam di sebuah coffee shop ternama, Bandung. Diluar hujan turun masih malu-malu.  Diantara suasana coffeeshop yang tetap seramai biasanya, aku memilih untuk duduk di meja pojokan. Sebuah meja bundar dengan 2 sofa kecil yang cukup nyaman dan tersembunyi. Membiarkan hot macchiato caramel favorit mendingin dan kursi lain di meja ku kosong tak terisi. Menunggu. Menunggu si pengisi kursi satu lagi itu datang. Si pacar. Masih agak aneh sebenarnya menyebutkan itu. Mengingat bahwa orang ini baru sekitar 3 bulan menyandang predikat si pacar. Aku tidak sering menyebutkan kata itu dalam hidupku sebenarnya, mengingat aku si -tidak mudah jatuh cinta- dan si –tidak mudah move on- kalo emang beneran kepincut. But, everything happens for a reason dan aku sangat percaya itu. Selalu ada alasan mengapa bukan beberapa nama sebelumnya yang akhirnya menyandang gelar -si pacar-. Kemudian khayalanku melayang seiring dengan asap panas dari machhiato caramel ku yang terus mendingin.

 

Nama Pertama

            Sebut dia si X. Kalau dia yang menjadi pengisi kursi kosong itu, pasti dia akan memesan kopi hitam polos. Kopi hitam yang biasanya hanya akan dipesan bapak-bapak. Tapi itu emang dia. Dewasa. Apa adanya. Bersama dengannya memang selalu tentram dan damai. Terlalu tentram, sehingga mengopi bersamanya, seperti biasa, pasti hanya akan didominasi oleh celotehanku saja. Seperti biasanya dia pasti hanya akan tersenyum, menanggapi seadanya. Dia bukan sosok dingin, cool, yang sering digambarkan idola cewek-cewek di komik atau novel. Dia cuma merasa ngga perlu ngomong terlalu banyak. Salah satu alasan dia mempunyai nilai lebih di mataku pada saat itu. Dibandingkan dengan cowok seumurannya yang lain, dia terlihat lebih mature. Tapi, mengopi bersamanya sepertinya bukan pilihan yang tepat. Seiring dengan habisnya machiatto dan bahan obrolan, aku akan mudah bosan. Tidak peduli betapa suka nya aku dengan orang itu.

” kamu sendiri hari ini ngapain aja?”, tanyaku mulai kehabisan bahan pembicaraan

“emm. Nothing’s fun. Biasa aja. Dengerin kamu lebih seru kok.  Jadi?”

Errghhh please!! 

 

Nama Kedua

            Sebut dia si Y. Dia ngga suka kopi. dia lebih memilih raspberry blended yang rasanya seru. Sama seperti dirinya. Bisa dibilang dia super fun. Selalu seru kalo ngobrol sama orang ini. Duduk duduk biasa bisa jadi seru banget. He always have something new to share and it’s interesting! Dia cerdas. Wawasannya luas. He was  someone I always adored with. Dia tinggi, berperawakan tegas, has brown eyes will makes girls scream! Tapi justru itu alasannya! Dia sadar banget dirinya adorable. Jadinya kadang-kadang celotehan ngasal ku malah suka ngga ditanggepin. He care most about himself and less about me. Ngopi-ngopi sama dia juga jadi ngga seru lagi, kalo selama berjam-jam, dia tetep seru sendiri cerita dia gimana, prestasi nya apa, blablabla. Secoklat-coklatnya mata gantengnya, kalo nontonin dia ngomong mulu, tetep aja nggak betah.

ehmm aku masih haus deh. Pesen kopi lagi apa-apa nggak ya buat maag aku?“, tanyaku

„eh? Terserah kamu aja. Oiya kamu musti tau juga tadi dosen ku bilang my presentation was excellent! Padahal aku ngerjainnya nggak niat-niat amat…blah blah blah“

STOP IT, DEAR YOU BROWN EYES! Beriiisiiikk tauuuk situuu!

 

Nama Ketiga

            Sebut dia si Z. Perpaduan yang super lengkap dari dua nama diatas, dia juga fun dan seru dengan semua keanehan dan ketidaklucuannya. Herannya aku tetep bisa ketawa ketawa seneng sama dia. Tapi ngga berarti dia cuma fun doang. Dia juga pinter dan concern banget sama hal-hal mengenai kuliah dan organisasinya itu. Kind of perfect figure, unless he’ll become sooo busy dan pasti menomorsatukan semua hal-hal organisasinya itu. Bukannya akan ada disini, mengisi kursi kosong di mejaku, namanya justru mungkin hanya akan muncul di inbox hp ku.

From: si Z

Sorry cannot be there for now dear. Ada pembubaran acara aku kemaren. I need to be here.. Takecare

Dan bisa ditebak kemudian endingnya. Aku tetap sendirian disana, dengan macchiato tersayang. OH NO PLEASE!!

 Nggak ada yang terdengar menarik dari ketiga khayalanku tadi. Everything happened for a reason masih menjadi quotes terfavorit ku. Even nobodies’ perfect, tapi setidaknya aku harus bisa tahan sama kelakuan pacarku sendiri. Khayalanku kemudian terusik dengan sebuah toyoran halus di kepalaku. Si orang ini yang kemudian menduduki kursi kosong ku tadi. Itu dia!

 Nama Keempat.

            Si pacar. Dia datang dengan senyum super usilnya. Senang mungkin pikirnya sukses membuat ku terhenyak. Lengkap dengan minuman coklat nya. Dia suka coklat. Sangat. Dia galak. Tapi seringkali galaknya justru membuatku aman. Super jayus. Tapi toh aku masih juga sering dibuatnya tertawa. Even there’s usually no sweet words from him, his grasp proved it all. More than enough. He loves me that big. He cares. He stole mine.

 ”lama banget sih situ datengnya!”

”heheh. Maaf ya. Ngomong-ngomong, ini udah gelas kopi yang keberapa hah hah?”

”baru satu kok, kenapa?”

”Kasian maag situ dong kalo banyak-banyak. Jadi, ngapain aja tadi situ nunggu sini dateng?”

”ada deh!”

”ih kebiasaan deh jawabnya, trus sekarang kenapa situ senyam-senyum?”

”nothing. Ehmm…  i’m glad it’s you, jawabku sambil tersenyum lebar dan membiarkan dia sedikit bingung. Pada akhirnya dia hanya pasrah sambil ikut tersenyum, ketika mendengar jawabanku.

 

ps. Happy Birthday Mr. Grumpy!

 

“Mereka Bilang Aku Harus Move-on”

•November 30, 2008 • 3 Comments

 

“Doodly, hari ini aku disuruh move-on lagi sama mereka. Malahan mereka sempet ngotot banget ngelarang aku kesini lagi. Untungnya akhirnya mereka ngebolehin aku ngunjungin kamu lagi. Tapi nggak boleh lebih dari 15 menit katanya”, ujar seorang gadis berumur sekitar 19 tahun. Bertubuh mungil dan terlihat rapuh. Berambut sebahu yang ia biarkan tergerai tertiup angin yang berasal dari awan yang mendung. Gadis itu hanya memakai baju rumah seadanya. Mungkin ia terburu-buru tadi, tidak sabar ingin menemui kekasih hatinya yang ia juluki Doodly. Beberapa meter darinya, tampak beberapa gadis lain seumuran yang menggunakan pakaian yang lebih rapi dari dirinya. Sengaja tidak mendekat. Membiarkannya berkomunikasi sendiri dengan kekasih hatinya.

 

sampe sekarang juga aku bingung kenapa mereka heboh banget nyuruh aku move-on dari kamu. Padahal sebenarnya kamu nya juga ngga pernah ngomong gitu sama aku. Iya kan? Lagian mana bisa aku move-on dari kamu. Aku udah tergantung banget tauuk sama kamu”, ujar gadis itu terkikik kecil. ”Buktinya ya, akhir-akhir ini makananku nggak pernah abis. Soalnya nggak ada kamu yang biasanya selalu dengan senang hati mau ngabisin makananku. Hihi. Pantesan perut kamu buncit. Kamu kan makannya banyak banget. Trus pas aku mau nyoba ngabisin makananku sendiri, aku malah mabok kekenyangan. Aku juga jadi ngerti kenapa dulu kamu suka banget ngelarang-larang aku minum kopi. Kemaren-kemaren pas kamu dibawa kesini, aku ngga mau tidur. Padahal sbenernya udah ngantuk banget. Jadi aku minum kopi aja deh yang banyak. Eh ternyata aku sakit perut. Aduh, aku jadi kangen suara kamu yang galak banget kalo aku udah minum kopi”. Suara si gadis yang awalnya terdengar bersemangat menceritakan hari-harinya, tiba-tiba menjadi sendu sesaat setelah ia menyadari bahwa ia sangat merindukan si doodly.

 

”kamu juga harus tau, doodly! Kemarin temen-temen aku nyingkirin semua benda-benda  yang mereka pikir bakal ngingetin aku sama kamu. Mereka juga ngapus paksa semua sms kamu yang ada di handpohe ku. Aku sampe nangis-nangis berantem sama mereka. Mereka bilang itu semua demi kebaikan aku, biar aku ngga inget-inget kamu lagi. Mereka nggak sadar ya, walaupun semua benda-benda fisik itu emang udah mereka singkirin semua ,tapi hal-hal yang ngingetin sama kamu justru masih ada di otak aku, di pikiran aku. Dan aku lega mereka ngga bisa ngambil itu semua dari aku”. terlihat si gadis amat sangat berusaha tegar. Menahan tangis nya. ia sudah berjanji pada doodly nya, teman-temannya dan bahkan dirinya sendiri untuk mengurangi menangisi doodly lagi. Paling tidak ia tidak akan nangis di depan doodly nya lagi.

 

eh tapi aku nggak boleh sedih lagi. Ya kan? Kamu bilang aku nggak boleh sedih lebih dari 1 hari. Emm, kamu tau ya kemaren aku nangis-nangis lebih dari 3 hari? Pasti kamu bakalan marah-marah deh kalo liat aku kemarin. Kamu tau? Bahkan aku kangen digalakin sama kamu lagi. Tapi sekarang aku ngga meraung-raung lagi kok disini. Lagian mereka juga ngga bakalan ngijinin aku kesini kalo ujung-ujungnya aku nangis sesenggukan di depan kamu lagi. Doodly, kalo aku janji akan selalu ngabisin makananku sendiri dan ngga akan minum kopi lebih dari 1 gelas, kamu tetep ngga bakalan ada untuk nemenin aku lagi ya?”, ujar si gadis yang nampaknya pertanyaannya terpotong dan tidak akan pernah terjawab. Ketika teman-temannya yang sedari tadi menungguinya dari kejauhan kemudian menghampirinya.

”kita pulang yuk, udah 15 menit lebih lho. Makamnya udah mau dibersihin sama penjaga nya. Lagian ini udah mulai hujan. Nanti kita ngga bisa balik ke mobil”, ujar salah satu dari teman si gadis itu. Mata penuh pengharapan menanti jawaban atas pertanyaannya kemudian meredup dan kembali menjadi sedih.

 

”kalo waktu itu gw tau bakalan ada gempa di gunung itu, gw ngga bakalan ngijinin dia naik”, ujar si gadis dengan mata berkaca-kaca. Seiring dengan hujan rintik-rintik kecil yang mulai membasahi pemakaman yang tampak sendu.

 

 

 

 

“keep that silence, dear”

•October 7, 2008 • 9 Comments

Pukul 9 di pagi hari. Ketika matahari Bandung belum terlalu berani mengekspresikan sinarnya. Ketika kampus sudah mulai dipenuhi mahasiswa berlalu lalang. Bergerombol sambil tertawa, berbagi mimpi serta kisah kehidupan perkuliahan. Ataupun sendiri, terlihat terburu-buru karena telat mengikuti kuliah, membawa buku-buku besar ataupun peralatan praktikum. Atau bahkan berdua bersama kekasih hati, dengan cara masing-masing dalam mengungkapkan isi hati. Seperti yang banyak terlihat duduk-duduk di selasar kampus pagi itu.

Mereka adalah salah satu dari mahasiswa yang pagi itu duduk-duduk di selasar kampus. Mereka adalah sepasang kekasih yang pagi itu tidak terlihat berbagi tawa bahkan cerita. Tidak juga berargumen kata-kata. Diam. Hal yang selalu mereka lakukan ketika mulai berbeda pendapat dan akhirnya diam untuk menghindari pertengkaran. Hal yang selalu mereka lakukan ketika sang laki-laki ingin berpikir, merenung, meredam amarah. Sang laki-laki yang sebelumnya bisa menjadi sangat anarkis ketika marah, dan untungnya ia bertemu si perempuan. Perempuan childish, ceria, tapi juga cukup pintar dalam mengatasi ke-anarkis-an laki-laki nya itu. Perempuan yang mengerti bahwa ketika sang pria sedang marah, ia tidak perlu mengeluarkan sepatah katapun, baik untuk menanyakan keadaannya atau sekedar untuk menghibur sang pria.  Perempuan yang rela hanya diam berjam-jam, duduk di sebelah pria nya, menemaninya meredam amarah.

 

”i promise i’ll be so quiet, kata-kata yang selalu terucap dari sang perempuan ketika sang pria meminta untuk menemaninya.

 

Masih di pagi yang sama, lagi-lagi sang pria marah. Pada keluarga nya. Pada dirinya. Pada hidupnya. Seperti biasanya, ia tetap diiringi alunan lagu yang bersumber dari playlist ipod hijau lime nya.  Seperti biasanya, ia tetap ditemani perempuannya yang  setia dalam diam di sebelahnya. Seperti biasa.

Yang tidak biasa adalah, kali ini perempuannya terlihat pucat, namun tetap tersenyum. Terlihat lemas, namun tetap ceria. Terlihat sakit, namun tetap disebelahnya, menemaninya. Yang tidak biasa adalah, kali ini sang pria terlalu marah dan sedih untuk menyadari bahwa perempuannya pucat, lemas dan bahkan mungkin terlalu sakit dan tetap memaksakan diri untuk ada disana, disebelahnya,menemaninya. Yang tidak biasa adalah, kali ini perempuan itu terlalu mengkhawatirkan kesedihan dan kemarahan sang pria, sehingga tidak sampai hati untuk memberitahu keadaannya. Kanker tulang, stadium 3.

 

Beberapa bulan setelahnya. Di suatu pagi yang lain, tempat yang berbeda.  Bukan dipenuhi mahasiswa berlalu lalang, melainkan banyak orang dari beragam usia, berkumpul. Bukan berbagi tawa maupun mimpi, melainkan duka, sesal, dan kehilangan. Lamunan sang pria kembali membawanya teringat akan janji perempuannya untuk tetap diam dalam menemani dirinya sedang marah ataupun sedih. Teringat pada pagi yang lalu, pagi yang terlihat biasa namun tidak biasa.

Lamunan sang pria, tiba-tiba dibuyarkan oleh seorang wanita setengah baya yang menawarkannya sebuket bunga ungu.

Perempuannya suka warna ungu.

 

 

 

”when i told you to be quiet, i mean not that silence. You shouldn’t be too quiet to tell me that you’re sick. But you’re always you. Always stick on your promise to me. Your promise to be that silence when i’m angry or sad. Now, I’m completely sad and yes you’re totally quiet and silence. I promise i’ll be doing great, for your quietness, kindness and patient just be silence and stay besides me, for all this time. Keep that silence, dear. ujar sang pria sambil menaruh buket bunga ungu favorit perempuannya diatas undakan tanah didepannya, sambil sesekali membelai lembut sebuah batu nisan, yang sayangnya tercantum nama perempuannya.

 

 

 

Always August

•October 6, 2008 • 7 Comments

 

Ketika 17 Agustus selalu memiliki caranya tersendiri untuk mewarnai hari-hari Rere. Hari kemerdekaan Indonesia? Bukan hanya itu. Seseorang yang selama 4 tahun ini selalu memenuhi hari-hari dan pikirannya, berulang tahun di hari ini. Menjadi subyek yang ditinggalkan bahkan meninggalkan juga menjadi bagian dari 17 Agustus. Untuk Rere, 17 Agustus pasti selalu berkaitan dengan Reindra, nama orang itu.

17 Agustus 2005

“Reindra? Si anak klub lingkungan itu kan? Tau sih. Temen-temen gw yang satu klub sama dia tuh yang sering banget muji-muji dia. Kayaknya emang orangnya oke, pinter-pinter nerdy gitu kali ya? Tapi ngga tau juga. Ngga beneran kenal sih.” – Rere

Begitu mengetahui bahwa hari itu Reindra ulangtahun -via friendster-, Rere iseng-iseng ngucapin selamat ke Rei via message friendster juga. Diluar perkiraan Rere, Rei membalas message ucapan selamat nya. Akhirnya selama beberapa hari ke depan, mereka malah saling berbalas e-mail dan akhirnya malah tukeran nomer dan sejak saat itu juga, Rere jadi mulai deket sama Rei. Ya paling ngga Rere ngga cuma sekedar tahu nama. Tapi walaupun mereka emang udah sms-an, bukan berarti begitu ketemu di sekolah Rere bisa langsung sapa-sapaan dengan akrabnya sama Reindra. Rere tau banget kalo tiba-tiba dia akrab sama Reindra di sekolah, pasti langsung jadi bahan gosipan teman-temannya, apalagi lingkup pertemanan Rere dan Reindra emang beda banget.

17 Agustus 2006

“ Reindra itu cerdas. Cara berpikirnya yang beda dari orang-orang kebanyakan justru bikin dia jadi seru buat diajak ngbrol.tapi gw juga ngga sedeket itu kok sama dia, biasa aja. Ha? Gw? Suka sama reindra? Waduh kenal aja baru. Ntar dulu deh” – Rere

Rere emang masih bisa berkelit dari teman-temannya, kalo kedekatan yang baru saja terjadi di setahun ini ngga membuatnya untuk kemudian menaruh hati pada cowok lugu bernama Reindra ini. Tapi kalo tiba-tiba Reindra pergi?

Mana pernah Rere mikir kalo tiba-tiba Reindra pindah sekolah? Rere baru tahu sekitar 2 minggu yang lalu, kalau hari ini, Reindra harus pergi ke London. Tiba-tiba Rere jadi takut ngerasa ditinggalin. Apalagi ini tahun terakhir mereka di SMA. Harusnya mereka bisa lulus bareng tahun ini. Tetapi gara-gara kepindahan Reindra ke London, Rere juga ngga bisa jamin dia bisa ketemu Reindra lagi.

“kalo lo emang ngga suka beneran sama Reindra? Kenapa segitu paniknya dia mau pergi?”, kata-kata yang akhir-akhir ini berputar-putar di kepala Rere.

Akhirnya Rere memberanikan diri untuk sms Reindra duluan,

“Rei, lo mau pergi ya?” –Rere- via sms

“Rere! Haai! 10 menit lg gw boarding. Tapi cuma setahun kok,Re. ngga lama kan? Oiya ntar lo lulus SMA duluan ya, hehe. Selama gw disana kita masih bisa e-mali kan?. Nomer gw yang ini juga masih nyala kok.. Take care Rere. *happy birthday to me? Lupa ya lo?hehe* ” – Reindra

“nope.inget kok. Happy birthday Reindra! Hati-hati disana” Rere. Ditinggalkan. Berat hati. Menyesal karena kenapa kenapa baru berasa suka nya hari ini, setelah Reindra mau pergi. Kenapa kemarin-kemarin ngga dia manfaatkan untuk ketemu sama Reindra dulu, sebelum entah kapan dia bisa ketemu lagi sama Reindra.

You never know what you’ve got until it’s gone?

Ngga juga. Karena sebenarnya walaupun Reindra emang di London, intensitas komunikasi Rere dan Reindra masih tetep lancar *or should I say lebih lancar?* Di bulan-bulan pertama Reindra pergi, Kehidupan Rere sebagai anak kelas 3 SMA ia hadapi bersama dengan Reindra. Reindra dengan senang hati akan mengingatkan Rere untuk belajar, teman berbagi pendapat untuk pilihan kuliah Rere nantinya, penyemangat Rere dalam menghadapi segala tantangan-tantangan di kehidupan akhir SMA nya. Rere juga dengan senang hati mendengarkan semua cerita-cerita homesick Reindra selama disana, ke-kangen-an Reindra ngomong bahasa Indonesia, mengabari Reindra gimana kabar teman-temannya di Indonesia dan hal-hal lain yang Reindra bisa bagi ke Rere.

Sayangnya itu cuma berlangsung pada awalnya. Karena di bulan-bulan terakhir, komunikasi Cuma berlangsung 1 arah. Lebih tepatnya rere yang masih sering update email nanyain kabar reindra disana. Tapi biasanya dari 3 e-mail yang rere kirim, Cuma 1 yang direspon sama reindra.

gw mau ngecek e-mail lagi ah Ta. Siapa tau reindra udah bales e-mail gw?”, ujar rere kepada Tata, teman sebangku rere di SMA.

ah gila lo Re. lo masih aja e-mail in dia? Duh rere. Mau sampe kapan si lo nunggu-nunggu ngga jelas gini. Reindra kan udah jarang bales e-mail lo. Lagian lo juga ngga tau kan kapan bisa ketemu dia lagi? Mendingan lo move-on deh. Jangan reindra mulu!”, Tata semangat banget nyuruh Rere untuk move on. Karena gimana juga, Tata ngga suka kalo sahabatnya udah mulai nunggu-nunggu ngga jelas.

” tapi kadang2 dibales kok. Ehm gw janji deh ngga bakalan e-mail in ato nanyain dia lagi sampe dia bener-bener ngga pernah bales e-mail gw lagi. Sampe dia bener-bener nyuekin gw deh.lagian sekarang gw ”nothing to loose” aja kok. Ngga nargetin apa-apa.”

17 Agustus 2006

” Rere si alumni! Kuliah dimana lo sekarang? Terus pas 17 an dateng ke sekolah ngga lo? I’ll be at Indo by that day, jadi pasti gue dateng ke skolah, hehehe” – Reindra via E-mail

Rere baru ngecek e-mail hari ini. Semenjak dia jarang nungguin e-mail dari Reindra, dia jadi males buka e-mail. Dan e-mail dari reindra yang ternyata dari 3 hari yang lalu itu baru dia baca sekarang. Dengan penuh senyum, rere langsung menuju ke rumah Tata untuk menjemput sahabatnya itu dan kemudian ke sekolah. Bertemu teman-teman SMA nya sebelum besok pagi dia pindah ke Bandung dan tentunya bertemu Reindra. Lagi.

”ha? Dia udah di indonesia? Dia disana cuma setahun? Eh kenapa tiba2 ngajakin lo ketemuan?” ujar tata ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah.

“dia ngga ngajakin ktemuan ko Ta. Iya ngga si? Dia cm bilang di udah di indonesia dan akan ke sekolah hari ini”, ujar rere ragu-ragu. “dodool! Ya sama aja. Ngapain dia ngasitau dia ada di sekolah kalo ngga ngarepin lo dteng juga. Mo ngomong apa ntar kalo lo ketemu?”

“waduh. Iya ya? Duh ta. Gw deg-deg an. Kan dulu-dulu juga ngga pernah ngomong langsung. Palingan kalo ngga sms ya e-mail”

”ya justru bagus kan? Ngga di alam maya mulu lo berdua. Biar lo ngga penasaran-penasaran lagi. Besok kan kita udah pindah ke Bandung re. Eh pamitan aja lo sama dia. Dia tau lo kuliah di bandung?”, tanya Tata.

“ngga. Kan gw ngga bilang. Duh bilang gitu aja kali ya? Mati ni gw. Deg-deg an nya udah dari sekarang”

Tapi begitu liat Reindra dari jauh, Rere malah ngga berani nyamperin. Deg-degan, panik sendiri. Menghindar kalo tiba-tiba reindra ada di dekat dia. Sampe akhirnya, dia ngga bisa lagi menghindar.

”Rere. Halo. pakabar?”, Reindra akhirnya membuka percakapan,

baik.. Eh reindra happy birthday ya”, jawab rere dengan masih canggung dan deg-deg an.

“iya makasih ya. Oiya kok gw ngga liat lo dateng ya? Daritadi kayaknya gw di depan pintu terus deh

“emm. Tadi pas gw dateng lo lagi sibuk kayaknya sama temen-temen lo.makanya gw masuk duluan aja deh”

“ah masa iya? Gituu ni lo. Dateng daritadi tapi ngga nyapa gw. Ngga kangen?’, ujar reindra meledek. Rere blushing bersemu kemerahan. “eh besok pagi gw udah ke bandung. Ehm sama Tata”, jawab rere mengalihkan pembicaraan.

“hah? Bsok? Cepet banget ya emm lo pindah nya. Emm”.

KRIK KRIK KRIK. Reindra ngga nerusin omongannya. Rere juga udah keburu ngga tau mau ngomong apa, sampe akhirnya..

“eh tadi lo kapan datengnya? Kenapa gw ngga sadar ya lo dateng?”, ujar reindrra lagi terbata-bata. “hah? Kan td gw udah bilang lo lagi sibuk emm..”, jawab rere. “oh iya. Lupa. Hehe. Re eh em…” dan lagi-lagi tidak diteruskan reindra dan mereka lagi-lagi terdiam.

“Rei, gw pamit ya besok eh.. td gw udah bilang juga ya?”, ujar rere ragu-ragu. “hehe.iya udah bilang kok. Cepet banget ya re. Baru aja gw pulang. Eh udah ditinggalin lagi. Gw musti ngulang kelas 3 dulu nih Re. Kalo ntar gw ke bandung, gw jadi junior lo ya berarti” dan diakhiri dengan tawa mereka berdua.

17 Agustus 2007

” Reii. Happy birthdayy,, hope all your wishes come true” From Rere via sms

Hampir setahun Rere jadi mahasiswa. Terakhir ketemu Reindra? Tepat setahun yang lalu di adegan ’pamitan’ di sekolah. Move on? Boro-boro. Orang-orang baru dan kesibukan baru ngga bikin dia jadi lupa gitu aja sama Reinda,walaupun komunikasi di antara mereka cuma terjalin bulan-bulan pertama sejak kepindahan rere ke Bandung.

Handphone berwarna putih itu ia biarkan sekitar 1jam. Harap-harap cemas menanti pesan baru, balasan dari Reindra. 1 jam berlalu tanpa ada tanda-tanda sms baru di layar handphone nya. Ia jadi teringat janjinya pada Tata, sahabatnya. Begitu Reindra ngga lagi bales ucapan ulangtahunnya, dia akan move on. ”batasnya hari ini. Sampe hari ini dia ngga bales? I’ll move!”, ujar Rere dalam hati.

”wow! Inget aja lo! Makasih banyak ya Rere. Semoga smua keinginan lo terkabul jg. Tkcr Rere.” Reply from Reindra

Rere tersenyum hopefull begitu baca sms yang datang setelah 2 jam menunggu. Entah itu hal yang baik atau buruk, Rere ngga keberatan untuk menunda jadwal move on nya.

17 Agustus 2008

Hari ini awal tahun ketiga untuk Rere sebagai mahasiswa dan tahun kedua untuk Reindra sebagai mahasiswa, di kampus yang sama, jurusan yang berbeda. Ngga membuat Rere jadi sering ketemu Reindra juga, cuma beberapa kali secara tidak sengaja. Ngga membuat Rere jadi berani nyapa duluan kalo ketemu Reindra juga. Yang ada Rere tambah kabur kalo ngga sengaja ketemu Reindra di kampus. Rere masih takut, deg-degan dan serba salah. Tapi ngga ada yang bisa menghalangi Rere untuk sms ulangtahun Reindra di hari itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

”hei Reindra. Lo ulangtahun kan hari ini? Happy birthday ya! Best wishes for you!”

Lagi-lagi harap-harap cemas dari Rere. Kali ini dia sengaja untuk bener-bener membiarkan handphone nya selalu ada bersama nya. Prinsip nya masih sama, yaitu ngga ada balasan berarti ngga ada alasan lagi untuk menunda jadwal move-on, seperti yang sudah-sudah.

-30 menit kemudian- handphone nya masih sepi

-5 jam kemudian- tidak ada perubahan

Akhirnya Rere membuat pengecualian. Dia akan memperpanjang batas nya sampe besok. Dengan segala denial yang ia keluarkan sepenuh hati untuk menghibur diri, dia memberi kesempatan Reindra sampe besok, untuk lagi-lagi menunda jadwal move on nya.

Ternyata sampai keesokan harinya, tetap tidak ada nama Reindra di inbox handphone nya.

Merasa tertampar dan tersadar.

Butuh 5 tahun untuk Rere menyadari kalau selama ini dia terlalu banyak mencari alasan untuk menghibur diri dan berharap ngga jelas. Selalu Rere yang duluan sms/e-mail * Reindra cuma sekali e-mail duluan*. Reindra emang baik dan ramah sama semua orang, termasuk Rere. Mungkin ngga pernah terpikir oleh Reindra, untuk Rere lebih dari sekedar temen/sahabat nya dan Rere ngerasa ditipu, useless, buang-buang waktu. Rere meraih handphone yang dari kemarin selalu bersamanya dan selalu ia lirik untuk memastikan ada sms dari reindra,

”Ta, sekarang waktunya. No more Reindra. Gw move on!”-SMS Rere untuk Tata-

Dan Rere pun merasa lega.

Awan, Bulan, Dan Bintang

•October 5, 2008 • 5 Comments

Aku dan dia tidak terpisahkan. Dari saat masih duduk di bangku SMP di Bandung, kami sudah selalu bersama. Mulai dari mengerjakan tugas bersama, bermain, hingga bolos sekolah bersama. Tak pernah sekali pun kami berpisah dalam waktu yang lama. Selalu bersama. Ada banyak hal yang mempersatukan aku dan dia. Selain karena rumah kami yang bersebelahan, aku dan dia memiliki kegemaran yang sama. Kami sama-sama senang dengan benda-benda yang ada di langit. Awan, bulan, dan bintang. Menurut dia, benda-benda di langit itu unik. Ada hanya untuk menemani karena tak bisa digapai. Ada ritual yang selalu kami lakukan bersama. Tiap pagi kami mengintip langit, melihat wujud apa yang dibentuk oleh awan untuk hari itu. Tiap malam kami naik ke atap rumah dan berlomba menghitung bintang sambil menikmati secangkir cokelat hangat, kegemaran aku dan dia yang lainnya. Hingga saat beranjak dewasa kini, kegemaran kami pun tetap sama. Awan, bulan, bintang, dan cokelat hangat. Tapi tak ada lagi ritual memandang langit di pagi dan malam hari. Juga tak ada lagi kegiatan meminum cokelat hangat berdua di atas atap, kami lebih sering melakukannya di kedai kopi yang ada di pusat perbelanjaan. Walaupun begitu, keakraban antara aku dan dia tidak berkurang sedikit pun.

Sahabat sejati, begitu ucapnya tiap kali kami mengenang indahnya hubungan yang telah terbentuk kurang lebih sepuluh tahun ini. Begitu juga yang aku ucapkan tiap kali orang lain bertanya tentang dia yang begitu dekat dan intimnya denganku. Memang, bagi kebanyakan orang aku dan dia tampak bukan sekedar pasangan sahabat, mereka kira aku dan dia adalah pasangan kekasih. Kami telah tahu satu sama lain secara lahir dan batin, mulai dari luar hingga dalam, dari a hingga z. Bahkan kami sering tidur berdua, saling mendekap; aku dan dia. Mungkin itu yang menurut orang lain tidak wajar dinamakan hanya sahabat. Sering aku bertanya pada dia, “Apakah mungkin kamu berubah?” Dia hanya menggeleng dan kemudian menertawai wajahku yang menurutnya tampak seperti kambing yang sedang bingung. Aku sendiri tak yakin ia benar-benar pernah melihat kambing yang sedang bingung, pasti ia hanya berkelakar saja. Tapi itu yang kusuka dari dia; tawanya, candanya, dan ceplas-ceplosnya. Sebenarnya masih banyak lagi yang kusuka dari dia. Saking banyaknya, hingga tak ada lagi tempat untuk orang lain di hatiku selain untuk dia. Bertahun-tahun kami bersama, rasa sukaku ini semakin menjadi. Hingga akhirnya baru kusadari kalau ini bukan perasaan seorang sahabat. Aku suka dia, aku sayang dia. Maka itu aku selalu bertanya, mungkinkah dia mengubah pandangannya padaku. Mengganti sahabat sejati menjadi kekasih hati. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu hadir dalam obrolan kami, secara tersirat. Aku tak cukup berani untuk mempertaruhkan kedekatan ini. Tapi selalu saja jawabannya mengambang, tak kalah tersiratnya hingga aku tak mampu memahaminya.

14 Juli. Hari ini hari ulangtahunnya. Aku berencana membuat sebuah perayaan untuk dia. Sengaja aku tak memberikannya ucapan selamat di pagi hari, saat dia bangun tidur dan keluar dari kamarnya, saat kami makan pagi bersama di meja makan, hingga saat kami bersama menuju kantor. Sepanjang perjalanan di mobil, aku hanya diam saja dan hanya menanggapi ocehannya seadanya. Dia tampak tak suka dengan ini, tapi begini lah permainannya. Dari radio terdengar lagu yang kami sukai dan sering kami nyanyikan dahulu saat SMP, “Bila Ku Ingat” judulnya. Begitu histerisnya dia ketika mendengar lagu itu hingga dia rasa perlu untuk menambah volumenya hingga dua kali lipat volume semestinya. Aku masih diam saja. Dia bernyanyi-nyanyi dengan lincahnya dan menarik-narik lenganku, mengajak untuk ikut bernyanyi. Namun aku masih diam saja. Sejujurnya, aku diam saja bukan hanya karena mengikuti permainan yang kubuat untuknya. Aku diam karena lagu ini dulu pernah kunyanyikan sepenuh hati untuknya saat ia kemudian hanya menertawaiku dan balik menyanyi lagu yang sama dengan cara yang menurut dia jauh lebih baik dari caraku bernyanyi. Padahal waktu itu adalah saat aku mengungkapkan perasaanku pada dia yang kusembunyikan secara pintar di balik nyanyian. Sayangnya ia tak mengerti. Mungkin selain itu, diamku adalah bentuk kegundahan. Kali ini di hari ulangtahunnya, saat aku hendak menyiapkan perayaan untuk dia lagu itu kembali terdengar dan kupercayai ini sebagai sebuah pertanda. Aku harus mengulang kembali pernyataan perasaanku kepada dia, malam ini. Beranikah aku? Sambil bergulat dengan berbagai rencana dan kegundahan di pikiranku, kami telah tiba di depan gedung tempat dia bekerja. Dia turun begitu saja, sambil setengah berteriak mengingatkanku untuk menjemputnya nanti sore. Aku tersenyum tanda setuju tanpa dia perlu melihatnya karena dia sudah tahu aku selalu ada untuk dia. Itu lah sebuah kepastian yang selalu kuberikan untuk dia.

Di kantorku hari ini tidak ada yang kulakukan sepenuh hati. Konsentrasiku terpecah-pecah, pikiranku melayang-layang, tapi hatiku tidak. Ia berada tetap di satu tempat, di lantai enam gedung sebelah. Tempat dia bekerja. Seperti yang sudah kuceritakan, kami tak pernah berjauhan. Hingga saat bekerja sekarang pun kantor kami berdekatan. Pekerjaan hari ini sengaja kutinggalkan begitu saja. Semua demi perayaan untuk dia di malam harinya. Aku menuliskan secara terperinci apa saja yang harus kulakukan dan kuucapkan kepada dia sore hingga malam nanti. Itu saja yang kukerjakan sepanjang hari hingga tanpa terasa satu persatu teman-teman di kantor mulai menghilang. Kemana semua mereka, pikirku. Mataku mencari-cari penanda waktu. Jam dinding tak terlihat, terhalang oleh pilar antar cubicle yang cukup menganggu. Jam mejaku tak bekerja setelah baterainya kucabut tempo hari. Jam tanganku lah satu-satunya yang berhasil kulihat. 17:10. Terlambat sedikit. Aku segera bergegas menuju basement dan memasuki mobil untuk kemudian menjemputnya.

Dia sudah berdiri dengan gayanya. Kaki kanannya disilangkan dan tangannya bertemu di depan dada sambil memainkan jari jemari. Khas sekali. Melihat mobilku tiba, dia langsung berlari dan membuka pintu. Dia mencium pipiku, itu yang selalu ia lakukan sepulang kerja. Tak ada sedetik, cerita segera meluncur dari bibirnya. Mulai dari cerita tentang kantornya, pekerjaannya, teman-temannya, hingga menu makan siang di kantinnya. Sore ini, topik utamanya adalah kekecewaannya terhadap bosnya. Kali ini, aku tak lagi diam seperti pagi tadi. Aku mulai mengikuti obrolannya. Tertawa setiap dia mengejek bosnya. Membalas lelucon-leluconnya. Hingga perjalanan tersendat karena macetnya Kota Jakarta, aku pun menghentikan pembicaraannya.

“Aku mau ngasih sesuatu buat kamu. Ini spesial sekali.” Ucapku. Kali ini ia serius menanggapi, ia mengangguk dan tersenyum kegirangan. Persis seperti wajah anak kecil yang mendapat balon dari badut di Dunia Fantasi.

“Aduuuh, kamu mau ngapain sih? Jadi penasaran.” Candanya.

Dalam hatiku, perasaan gelisah sudah mulai memuncak. Akankah kali ini sama seperti biasanya. Perasaanku tidak ditanggapinya secara serius. Akankah aku bisa mengutarakan isi hatiku secara eksplisit, langsung tanpa tedeng aling-aling.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, aku membawanya ke restoran di pinggir pantai. Malam ini cukup sepi, sehingga kami bisa mendapatkan tempat tepat di pinggir pantai. Dia begitu bahagia melihat tempat itu. Tak ada kata-kata yang ia ucapkan selain tawa kecil yang begitu manis.

“Bagus kan?” tanyaku pada dia.

Dia tidak menjawab. Pandangannya menerawang ke lautan lalu ke langit, lalu ke lautan kembali, begitu saja terus-menerus. Senyum tak habis-habisnya ia kembangkan. Begitu manisnya dia malam itu.

“Happy birthday. Ini untuk ulangtahun kamu.”

“Ya ampun. Berlebihan deh. Aku aja nggak peduli sama yang namanya ulangtahun.”

Aku pun tersenyum kecut. Mungkin kah memang aku berlebihan. Atau dia yang terlalu cuek dengan dirinya sendiri.

“Kan udah lama kita nggak lomba ngitung bintang kayak dulu. Makanya aku bawa kamu ke sini.” Aku mencoba mengelak. Tanpa sadar, aku turut larut bersamanya menegadah ke langit dan mulai menghitung bintang. Persis seperti masa-masa kecil dulu. Satu, dua, tiga, empat. Aku dan dia mulai menghitung. Entah mengapa, bintang-bintang kali ini jauh lebih banyak dari biasanya. Mungkin karena sudah lama aku tak melihat bintang. Atau mungkin karena hatiku dan hatinya yang berbinar menambah jumlah bintang-bintang di langit. Kalau dulu selalu ada dua cangkir cokelat hangat yang menemani kami berdua menghitung bintang, kali ini cokelat hangat hadir dalam bentuk yang berbeda. Dua buah cake dengan lelehan cokelat hangat di dalamnya disajikan untuk aku dan dia.

“Dulu, cuma cokelat di cangkir aja. Sekarang, lebih mewah begini.” Dia menyendok kue sambil melihat aku dalam-dalam.

“Iya dong. Jamannya udah berubah tahu.” Candaku. Dia hanya tertawa kecil sambil kembali menyantap cokelatnya.

“Hatiku juga ikut berubah.” Aku menambahkan.

“Maksudnya?” Keningnya mengernyit, sepertinya ia tidak paham pembicaraanku mengarah ke mana.

“Dulu, kita cuma sekedar sahabat aja. Yang aku rasain ke kamu dulu cuma berdasarkan perasaan antar dua orang yang suka berbagi cerita tentang awan, bulan, bintang. Tapi sekarang kayaknya beda.” Aku mulai serius.

Detik itu juga, di tengah aku mengucapkan kalimat sederhana yang telah kususun secara rumit sepanjang hari ini, ombak berderu kencang. Ditambah tiupan angin yang menerbangkan serbet di meja makan kami, membuat rambut dia berantakan. Seiring dengan itu pula lah kalimatku hanyut.

“Waduh, anginnya bikin masuk angin nih! Kalau besok aku sakit, kamu tanggung jawab ya!” Ia malah masih asyik bercanda. Aku begitu mengutuk ombak dan angin yang meluruhkan keberanianku untuk berbicara kepada dia. Kini aku kembali gundah. Mungkinkah ini saat yang tepat? Bulan dan bintang mungkin mengirim pesan kepada ombak dan angin untuk menunda ucapanku karena ini bukan saatnya. Tapi aku pun tak tahu. Bingung.

“Hei, kok diem aja sih? Ayo, makan.” Dia asyik mengunyah makanan utama yang tanpa kusadari telah dihidangkan untuk kami berdua. Mulutnya tampak penuh dengan makanan, membuat pipinya terlihat gendut. Lucu sekali. Dia kemudian menunjuk dengan dagunya, mengisyaratkanku untuk menyantap hidangan di depanku. Kuiris sedikit demi sedikit makananku, perlahan-lahan. Persis seperti waktu yang juga teriris sedikit demi sedikit hingga akhirnya bertambah malam. Bintang mulai meredup. Aku mencoba tidak mengikuti bintang kali ini. Hatiku masih menyala terang, keberanianku masih bersinar.

Malam indah ini kuhabiskan bersama dia di rumah kontrakan kami berdua. Di Jakarta kami memang tinggal berdua dalam satu rumah. Bayangkan, saking akrabnya aku dan dia, orangtua kami mengizinkan kami untuk tinggal di bawah satu atap. Di atas sofa besar kami duduk berdua, menonton film dari kepingan DVD yang dia koleksi. Aku tak begitu menyimak jalan cerita film tersebut. Selain karena dia duduk dengan posisi memelukku, konsentrasiku terfokus ke barisan kalimat yang telah hilang dalam arus air laut tadi. Satu persatu kucoba kumpulkan, kujaring dengan perasaanku kepada dia yang kuat. Kuatnya mungkin sama seperti jala nelayan untuk menjaring ikan. Hingga film hampir berakhir, kata demi kata mulai kutemukan walaupun masih basah dan penuh pasir. Perlu beberapa saat untukku mengeringkan dan merapikannya kembali menjadi satu kalimat yang utuh. Dia masih duduk memelukku. Tak ada satu pun suara yang ia keluarkan. Memang begitu tabiatnya setiap kali menonton film. Ia benar-benar serius dan fokus. Jadi, aku memilih untuk berbicara padanya setelah film selesai.

“Honey, would you be mine.” Begitulah ucapan si tokoh utama di akhir film. Film berakhir dengan happy ending. Aku menarik nafas. Ini lah saatnya aku juga membuat sebuah happy ending bagi persahabatan ini. Membawanya ke tingkatan yang lebih intim lagi.

“Bagus ya filmnya. Lihat nggak tadi, pacar si cowok itu mirip kayak kamu ya karakternya. Tapi cowok itu, sama sekali nggak kayak aku. Dia tadi berani buat bilang “Honey, would you be mine” langsung ke pacarnya. Aku nggak seberani itu. Ya iya lah, mau bilang ke siapa ya? Pacar aja nggak ada kan.” Aku mencoba bercanda sedikit, mengurangi keteganganku.

“Tapi aku sekarang mau coba untuk berani. Tadi, mungkin kamu nggak denger waktu kita makan malam. Aku tadi bilang kalau dulu kita cuma sekedar sahabat aja. Yang aku rasain ke kamu dulu cuma berdasarkan perasaan antar dua orang yang suka berbagi cerita tentang awan, bulan, bintang. Tapi sekarang kayaknya beda. Aku ngerasain perasaan yang lain. Perasaan sayang. Sekarang aku mau berbagi cerita tentang bumi dan kehidupannya. Bukan cuma sekedar awan, bulan, dan bintang.”

Aku menarik nafas panjang.

“Aku sayang kamu. Mau nggak kamu mengganti sahabat sejati ini jadi kekasih hati? Norak ya bahasaku.” Aku tertawa salah tingkah.

Hening.

Tak ada suara apa pun yang kudengar selain lagu dari film yang masih menampilkan credit title. Kuintip dia. Matanya terpejam namun bibirnya tersenyum. Ia tertidur. Lagi-lagi kalimatku tak sampai kepadanya. Kali ini aku mengutuk malam yang kian larut, yang membuatnya kelelahan dan tertidur sambil memelukku. Mungkin memang aku tak pernah boleh mengutarakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Bisa jadi aku memang ditakdirkan sebagai sahabat sejatinya sehingga tak boleh ada perasaan yang lebih dari itu. Kumatikan televisi di depan kami. Rumah kami menjadi gelap seketika, hanya sinar bulan dan bintang yang menerangi, menerobos celah-celah jendela. Kupandangi awan, bulan, dan bintang di langit yang terlihat kecil dari sini.

“Sekarang aku tahu kenapa kamu begitu suka melihat awan, bulan, dan bintang. Karena itu adalah kamu. Ada hanya untuk menemani. Dan antara aku dan kamu selalu berjarak, nggak akan bisa lebih dekat lagi. Persis seperti aku yang nggak mungkin menggapai awan, bulan, dan bintang.”